Sebelum Semegah Sekarang, Suara Muhammadiyah Ditempa Perjuangan di Kantor Sederhana

Deni Asy’ari, MA., Dt Marajo. Foto: Pras
Deni Asy’ari, MA., Dt Marajo. Foto: Pras

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Saat ini, Suara Muhammadiyah telah menunjukkan perkembangan gigantik dengan deretan bisnis yang dijalankan. Bersamaan dengan itu, sudah punya kantor yang sangat megah.

Tapi, jauh sebelum itu, kantor Suara Muhammadiyah sangat sederhana. Letaknya berada di depan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

“Bagi saya bangunan ini bukanlah saksi bisu ya. Tapi bangunan ini adalah saksi hidup,” kenang Deni Asy’ari, yang saat itu menjadi wartawan Suara Muhammadiyah.

“Saya diwawancara oleh Pak Mus, Pak Isngadi, Pak Zuly Qadir, Asep Purnama Bahtiar,” kenangnya saat berada di kantor lama Suara Muhammadiyah itu dalam rapat bulanan, Sabtu (31/10).

Disebutnya, saat itu yang diwawancara ada 5 laki-laki dan 1 perempuan. Dari 5 laki-laki itu, Deni lolos seleksi menjadi wartawan.

“Itu mungkin proses pertama SM melakukan interview dalam rekrutmen. Sebelumnya tidak,” ungkap Deni.

Yang membekas bagi Deni, ketika mendapat titah dari Mustofa W Hasyim ke lapangan tunggang langgang ke daerah-daerah mencari berita. “Karena cari berita sama dulu, enggak sama dengan cari berita saat sekarang,” bebernya.

Mencari berita era dulu, harus ke lapangan dan bersua langsung dengan narasumber. “Harus face to face. Harus ketemu, ketemu langsung. Dan itulah yang saya jalani,” ujarnya.

Dikemukakan ia pernah menjalani masa menginap di masjid dan menggunakan transportasi kereta api yang dulu fasilitasnya jauh berbeda dengan yang sekarang.

“Saya mengalami hal yang lebih berat. Saya tidak ada yang namanya penginapan waktu di luar kota. kalau naik transportasi ya naik kereta ekonomi,” tuturnya.

Rangkaian itu menjadi media membentuk pribadi Deni tumbuh menjadi seperti sekarang, Direktur Utama PT Suara Muhammadiyah / Suara Muhammadiyah.

“Itulah kemudian yang saya simpulkan. Ternyata bahwa kesuksesan itu memang punya anak tangga. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” tekannya.

Pembentangan cerita Deni itu menjadi napak tilasnya, lebih-lebih Suara Muhammadiyah sendiri secara umum yang dulu hanya punya 1 kantor yang sangat sederhana, tetapi kini telah memiliki kantor megah yakni Grha Suara Muhammadiyah.

“Maka di tempat ini kita ingin bernapak tilas. Yang masih ada hari ini, masih aktif hari ini yang bisa melihat perjalanan bisnis dan perkembangan Suara Muhammadiyah. Agar generasi hari ini mengerti bahwa kita berada pada kondisi saat sekarang ada rekam jejak sejarah yang pernah dilalui. Ada sejarah panjang yang pernah menjadi jembatan kita yakni adalah bangun ini,” tegasnya. (Cris)