Konsolidasi PCIA, ‘Aisyiyah Perluas Dakwah Global, Perempuan Didorong Jadi Agen Perubahan
YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah menyelenggarakan Konsolidasi Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) pada Sabtu (31/10) di Kantor PP 'Aisyiyah Yogyakarta. Mengusung tema “Konsolidasi Gerakan untuk Perluasan Dakwah Internasional ‘Aisyiyah: Penguatan Ideologi, Tata Kelola Organisasi, dan Strategi Dakwah Global”, kegiatan menjadi bagian dari upaya memperkuat gerakan ‘Aisyiyah di tingkat internasional.
Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Salmah Orbayinah menyampaikan bahwa dinamika persoalan global yang semakin kompleks, mulai dari ketimpangan ekonomi dan sosial, kemiskinan, konflik kemanusiaan, krisis lingkungan, hingga diskriminasi dan kekerasan berbasis gender, menuntut keterlibatan perempuan sebagai agen perubahan.
“‘Aisyiyah di mana pun berada perlu mengambil bagian dalam menjawab berbagai persoalan tersebut, baik di Indonesia maupun di negara tempat para kader berada,” bebernya.
Menurutnya, dakwah tidak cukup hanya diwujudkan melalui simbol dan penyampaian verbal, tetapi harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi kehidupan masyarakat.
"PCIA tentunya memiliki posisi yang sangat strategis karena bukan sekedar organisasi berkumpulnya warga 'Aisyiyah di luar negeri tentunya, tetapi, merupakan representasi nilai pemikiran dan juga praksis gerakan 'Aisyiyah di tengah masyarakat internasional sehingga setiap kader PCIA sesungguhnya membawa identitas dan misi gerakan dari 'Aisyiyah itu sendiri," tekannya.
Ia menjelaskan, PCIA memiliki tiga fungsi strategis. Pertama, sebagai duta nilai Islam Berkemajuan dan perempuan berkemajuan yang memperkenalkan wajah Islam yang damai, moderat, inklusif, menjunjung keadilan, serta menghormati martabat manusia.
“Kedua, sebagai penggerak dakwah dan pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, penguatan keluarga sakinah, serta kepedulian terhadap kelompok rentan,” ujarnya.
Ketiga, sebagai jembatan kolaborasi internasional dengan membangun jejaring bersama organisasi perempuan, lembaga pendidikan, komunitas Muslim, organisasi kemanusiaan, dan berbagai institusi di negara tempat PCIA berada.
Lebih lanjut, Salmah menekankan empat hal yang perlu menjadi perhatian dalam konsolidasi gerakan PCIA. Pertama, penguatan ideologi dan visi gerakan agar seluruh kader memiliki pemahaman dan komitmen yang sama terhadap misi ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan. Nilai Islam Berkemajuan, perempuan berkemajuan, serta visi membebaskan, memberdayakan, dan memajukan perempuan harus menjadi landasan setiap aktivitas dakwah.
Kedua, penguatan tata kelola organisasi dan kepemimpinan, termasuk kaderisasi, regenerasi kepemimpinan, komunikasi yang efektif dengan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, serta koordinasi antarcabang istimewa.
“Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada kader perempuan muda, mahasiswa, diaspora Indonesia, dan komunitas Muslim setempat sebagai bagian dari keberlanjutan gerakan,” terang Salmah.
Ketiga, pengembangan program dakwah yang kontekstual. Setiap PCIA memiliki karakteristik, kondisi sosial, budaya, dan regulasi negara yang berbeda.
“Karena itu, program dakwah perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat tanpa kehilangan identitas sebagai kader ‘Aisyiyah,” ujarnya.
Keempat, penguatan jejaring dan kolaborasi global. Menurut Salmah, dakwah ‘Aisyiyah perlu menjadi bagian dari gerakan bersama untuk menjawab berbagai persoalan kemanusiaan global melalui kemitraan dengan organisasi perempuan, lembaga perdamaian, perguruan tinggi, dan berbagai institusi internasional. (Suri)