Muhammadiyah Perlu Kembangkan Model Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Kawasan

Prof Hilman Latief, MA., PhD. Foto: Cris
Prof Hilman Latief, MA., PhD. Foto: Cris

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Seorang miliuner asal Singapura memiliki keinginan kuat untuk menjalin kolaborasi dengan Muhammadiyah dalam upaya mengentaskan kemiskinan. Pendekatan yang ditawarkan dimulai dengan mengidentifikasi kantong-kantong kemiskinan berdasarkan data yang tersedia.

“Itu bisa melibatkan sejumlah orang, sekian orang dari masyarakat yang kemudian bekerja untuk mendobrak bisnis itu,” demikian dikemukakan Hilman Latief, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (6/11) dalam Symposium Muhammadiyah Zakat Summit 2026 di Hotel Dafam Semarang, Sekayu, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/11).

Sebagai contoh, ia membangun kawasan perhotelan di sekitar hutan lindung atau taman nasional dengan mendirikan hotel, vila, dan berbagai fasilitas pendukung. Proyek tersebut membuka lapangan pekerjaan bagi ribuan masyarakat sekitar yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses ekonomi.

“Bagi saya ini adalah sebuah pendekatan yang baru dan menarik. Artinya sebuah pemberdayaan berbasis kawasan yang real, yang intensif yang kemudian bisa diukur betul perimbangannya,” ujarnya.

Yang menjadi pertanyaan, apakah bisa diejawantahkan di Indonesia? Hilman berceletuk sangat potensial. “Kita punya tempat luas. Kalau di Indonesia banyak tempatnya,” ungkapnya.

Ia mencontohkan di salah satu wilayah Indonesia Timur. Terdapat lahan seluas 100 hektare yang belum dimanfaatkan secara optimal. “Banyak yang bingung dengan lahan wakaf yang diberikan kepada kita,” bebernya.

Karena tidak mengetahui bagaimana mengelolanya, pemilik lahan kemudian mengajak tokoh adat bermusyawarah. Sebagian lahan seluas 40 hektare akhirnya dibagikan kepada masyarakat.

“Sementara wilayah tersebut bukan wilayah padat penduduk atau destinasi pendidikan. Padahal itu adalah tempatnya wisata, dekat Labuhan Bajo,” ucapnya.

Karena itu, Muhammadiyah perlu memikirkan model pemberdayaan berbasis kawasan yang sesuai dengan potensi wilayah agar aset yang dimiliki dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Inilah yang menjadi pikiran saya ke depan,” sambung Hilman. (Cris)