Refleksi Milad 114 Muhammadiyah: Meneguhkan Ketulusan dan Mengikis Ego Narsistik dalam Dakwah dan AUM

Achmad Hilal Madjdi, Wakil Ketua PDM Kudus.  Guru Besar Bidang Teaching English as a Foreign Language and Language Skill/Wakil Rektor IV Universitas Muria Kudus
Achmad Hilal Madjdi, Wakil Ketua PDM Kudus. Guru Besar Bidang Teaching English as a Foreign Language and Language Skill/Wakil Rektor IV Universitas Muria Kudus

Refleksi Milad 114 Muhammadiyah: Meneguhkan Ketulusan dan Mengikis Ego Narsistik dalam Dakwah dan AUM 

Oleh: Achmad Hilal Madjdi

Gangguan Kepribadian Narsistik (Narcissistic Personality Disorder/NPD) yang marak di era digital kini menyusup ke ranah keagamaan dan institusi persyarikatan. Nilai dasar Muhammadiyah yang menjunjung tinggi keikhlasan, rasionalitas, dan kepemimpinan kolektif-kolegial bertentangan secara mendasar dengan sifat narsistik seperti keagungan diri (grandiosity), dahaga validasi publik, dan ketumpulan empati. Naskah ini membedah kriteria klinis NPD, kritik Al-Qur'an (QS. Luqman: 18) dalam Tafsir Al-Manar, prototipe Dzul Khuwaishirah, serta merumuskan terapi profetik berbasis tazkiyatun nafs dan pilar falsafah kader.

Perkembangan pesat era digital dan media sosial telah membawa perubahan mendalam dalam cara manusia membangun identitas dan citra diri. Platform digital seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp kerap menjadi arena memamerkan eksistensi yang memicu perilaku flexing, pencitraan ideal terkurasi, hingga krisis identitas. Pakar neurosains Baroness Greenfield mencatat bahwa obsesi terhadap pengakuan digital secara berlebihan dapat mengubah struktur respons otak (rewire the brain), menurunkan kapasitas konsentrasi, serta memicu haus gratifikasi instan yang memperparah kecenderungan narsistik di masyarakat modern.

Namun, fenomena narsisme tidak berhenti pada penampilan fisik atau pencapaian materi sekuler. Narsisme agama (spiritual/religious narcissism) kini menyusup ke area yang sangat sakral, yaitu praktik keagamaan dan institusi persyarikatan. Dalam komunitas keagamaan, kecenderungan narsistik muncul sebagai kesalehan palsu, penggunaan otoritas moral untuk merasa lebih unggul, perasaan berhak (self-entitlement), serta kecenderungan merendahkan kualitas iman orang lain.

Bagi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar yang didirikan atas keikhlasan, rasionalitas, dan kerja kolektif, penetrasi perilaku narsistik merupakan ancaman laten yang sangat serius. Ketika 'BerMuhammadiyah' tidak lagi didasari niat tulus mencari keredaan Allah SWT, melainkan didorong oleh pencarian panggung pribadi, dahaga pujian struktural, dan egoisme kepemimpinan, maka prinsip utama persyarikatan akan mengalami degradasi nilai yang membahayakan keberlanjutan dakwah.

Konseptualisasi NPD: Kriteria Klinis DSM-5 dan Dinamika Psikologis

Dalam kajian psikologi dan psikiatri modern, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) oleh American Psychiatric Association (APA) mengklasifikasikan Narcissistic Personality Disorder (NPD) sebagai pola keagungan diri yang berlebihan (grandiosity), kebutuhan konstan akan kekaguman eksternal, dan kurangnya empati mendalam terhadap orang lain. Seseorang terdiagnosis NPD apabila memenuhi sekurang-kurangnya 5 dari 9 kriteria klinis utama.

Secara etioligi psikodinamika, Heinz Kohut (Self Psychology) dan Otto Kernberg menjelaskan bahwa NPD berakar dari kegagalan pembentukan harga diri yang sehat (healthy self-esteem) pada masa kanak-kanak. Pola asuh yang terlalu memanjakan (over-indulgent), pujian tidak realistis, atau sebaliknya penelantaran emosional yang dingin, menyebabkan anak mengadopsi konstruksi 'diri palsu' (false self) sebagai mekanisme pertahanan terhadap rasa tidak aman (insecurity) dan kekosongan batin.

Narsisme merupakan istilah modern, namun substansi patologisnya telah dipelajari secara mendalam dalam tradisi spiritualitas Islam (akhlak dan tasawuf) sebagai penyakit hati (amradh al-qalb). Al-Qur'an dan Hadis memetakan gejala narsistik melalui konsep takabbur (sombong), 'ujub (mengagumi diri sendiri), riya' (pamrih), sum'ah (ingin dipuji), fakhr (membangga-banggakan diri), dan hubbul jah (gila jabatan dan ketenaran).

Alqur’an menyetakan: 'Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.' (QS. Luqman: 18).

Dalam Tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha, ayat ini dijelaskan bukan sekadar teguran terhadap ekspresi kesombongan lahiriah, melainkan kecaman mendalam terhadap keadaan batin yang merasa lebih unggul dan merendahkan orang lain. Rasyid Ridha menegaskan bahwa kesombongan merupakan bentuk penyucian diri yang keliru (tazkiyah al-nafs al-khati'ah) yang merusak ukhuwah dan menutup pintu kebenaran.

Imam Al-Muhasibi menambahkan bahwa riya' didorong oleh tiga pemicu utama: cinta akan pujian, takut dicela/diremehkan, dan keserakahan terhadap urusan duniawi. Beribadah atau beramal demi validasi manusia mencerminkan krisis identitas spiritual, karena meninggikan penghormatan makhluk di atas keredaan Sang Pencipta.

Studi Kasus Profetik: Dzul Khuwaishirah sebagai Prototipe NPD Keagamaan

Dalam riwayat sahih (HR. Bukhari no. 3641 & HR. Muslim no. 1064), tercatat peristiwa sejarah yang menjadi cermin berharga mengenai munculnya NPD di lingkungan keagamaan pada masa kenabian. Sosok Dzul Khuwaishirah at-Tamimi menampilkan indikator klinis NPD secara nyata saat mendatangi Rasulullah SAW yang sedang membagikan harta rampasan perang (ghanimah).

Anatomi narsisme keagamaan yang ditunjukkan oleh dzul khuwaishirah antara lain Rasa Berhak Berlebihan (Self-Entitlement): Dzul Khuwaishirah berteriak, 'Bertaqwalah kepada Allah dan berbuat adillah, wahai Muhammad!' Ia merasa pemahamannya tentang keadilan lebih tinggi daripada keputusan Nabi, Pengabaian Adab & Empati: Menyanggah dan mempermalukan Pemimpin Umat di forum terbuka tanpa mempedulikan kemaslahatan dakwah, Kesalehan Simbolis Tanpa Kebersihan Batin: Rasulullah SAW menggambarkan bahwa kelompoknya memiliki ibadah ritual luar biasa, namun Al-Qur'an tidak melewati tenggorokan mereka (tidak meresap ke hati dan akhlak), dan Eksklusivisme & Radikalisme Takfiri: Narsisme keagamaan yang merasa paling benar sendiri pada akhirnya berevolusi menjadi gampang mengafirkan sesama (takfiri) dan memicu perpecahan.

Benturan Ideologis: NPD vs Kepemimpinan Kolektif-Kolegial Muhammadiyah

Untuk memahami betapa bertolak belakangnya sifat NPD dengan asas persyarikatan, kita perlu menelaah kembali fondasi ideologis dan manhaj gerakan Muhammadiyah: Hakikat Islam Manhajji vs Islam Madzhabi serta Kepemimpinan Kolektif-Kolegial.

Muhammadiyah menegaskan diri sebagai gerakan Islam Manhajji, yakni berislam dengan mengoperasionalkan jalan/metode pemahaman Al-Qur'an dan As-Sunnah secara langsung melalui kerangka Tajrid (pemurnian akidah dan ibadah mahdlah) dan Tajdid (pembaharuan muamalah duniawiyah). Muhammadiyah tidak terikat pada pendapat perorangan (qaul minal aqwal), melainkan berorientasi pada dalil yang rasional dan objektif. Karakter ini menuntut kader bersikap ilmiah dan terbuka, bukan fanatik figur.

Muhammadiyah menganut sistem kepemimpinan Kolektif-Kolegial. Tidak ada doktrin 'figur tunggal' atau 'pemimpin mutlak' (one-man show). Keputusan organisasi diambil melalui musyawarah mufakat di tingkat pimpinan. Kepemimpinan transformasional Muhammadiyah menuntut empat karakter utama: Credible (satunya kata dengan perbuatan), Creation Opportunities (membuka peluang bagi anggota lain), Caring (peduli pada anggota), dan Communication (komunikasi santun dan efektif).

Manifestasi Toksisitas Narsistik dalam Pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah  

Ketika individu dengan kecenderungan NPD menduduki posisi strategis dalam struktur persyarikatan atau Pengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) seperti sekolah, universitas, rumah sakit, maupun panti asuhan, terjadi benturan nilai yang sangat merusak.

Prof. Dr. Dadang Kahmad menegaskan bahwa inti ibadah dan kepemimpinan Islam adalah kejujuran dan pengendalian diri (imsak). Individu narsistik rentan melakukan manipulasi laporan keuangan AUM, pencitraan palsu demi mempertahankan jabatan, hingga pemanfaatan fasilitas persyarikatan untuk gaya hidup pribadi (flexing).

Penanggulangan NPD dalam persyarikatan membutuhkan pendekatan ganda, yaitu kombinasi intervensi psikologi klinis dan terapi spiritualitas Islam, yakni Rekonstruksi Jiwa melalui Tazkiyatun Nafs & Dzikir: Islam memandang kesombongan sebagai dominasi hawa nafsu (ammarah bi al-su') yang harus ditundukkan melalui mujahadah an-nafs. Ke dua, Dzikir yang konsisten menyadarkan manusia akan hakikat dirinya yang kerdil di hadapan Allah SWT, sekaligus meruntuhkan konstruksi 'diri palsu' (false self) untuk digantikan dengan tawadhu' yang sejati.

Yang ke tiga adalah Metode Ibadah Klandestin (Amalan Sirr): Untuk memutus dahaga validasi publik, Rasulullah SAW mengajarkan resep spiritual dengan membiasakan amalan tersembunyi (sirr) yang hanya diketahui oleh Allah SWT (HR. Bukhari no. 731). Bersedekah tanpa publikasi dan beribadah di keheningan malam menjadi terapi detoksifikasi paling ampuh mematikan ego narsistik.

Refleksi Akhir Milad ke-114: Mewujudkan Masyarakat Islam yang Utama

BerMuhammadiyah pada hakikatnya merupakan ikhtiar kolektif seluruh warga persyarikatan untuk menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam, demi terwujudnya masyarakat Islam yang utama, adil, dan makmur yang diridhai Allah SWT. Gerakan dakwah dan amar ma'ruf nahi munkar ini dibangun di atas landasan nilai keikhlasan, ketulusan niat, serta tatanan kepemimpinan yang bersifat kolektif-kolegial tanpa adanya dominasi figur tunggal.

Namun, munculnya kecenderungan Narcissistic Personality Disorder (NPD) pada diri kader maupun pimpinan menjadi ancaman pragmatis dan ideologis bagi keberlangsungan organisasi. Secara psikologis dan spiritual, NPD merupakan bentuk gangguan kejiwaan sekaligus penyakit hati yang berakar dari rasa keagungan diri yang berlebihan (grandiosity), haus akan pemujaan publik, serta tumpulnya empati. Dalam khazanah keislaman, kondisi ini berkelindan erat dengan sifat takabbur (sombong) dan riya', di mana amalan serta pengabdian dilakukan demi pamrih dan validasi manusia, bukannya murni karena Allah SWT.

Kehadiran sifat narsistik ini merusak iklim kepemimpinan kolektif-kolegial yang mengedepankan musyawarah dan kesetaraan. Pemimpin yang terjangkit NPD cenderung bersikap otoriter, menolak kritik, serta melakukan claim-taking atau mengambil alih kredit keberhasilan tim sembari melemparkan kesalahan (blame-shifting) kepada bawahan. Perilaku manipulatif ini meruntuhkan budaya integritas dan etika profesional di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Pada tingkat yang lebih mendalam, fenomena narsisme keagamaan ini mengikis kesucian niat beribadah (tazkiyatun nafs). Seseorang yang terjebak dalam ilusi superioritas akan kehilangan kepekaan nurani dan semangat persaudaraan (ukhuwah). Oleh karena itu, penanggulangan narsisme melalui penguatan spiritualitas, pembiasaan sikap tawadhu', dan pemurnian niat (ihlas) menjadi kebutuhan krusial guna menjaga marwah dakwah Muhammadiyah agar tetap bersih dari destruksi ego pribadi. 

Achmad Hilal Madjdi, Wakil Ketua PDM Kudus.Guru Besar Bidang Teaching English as a Foreign Language and Language Skill. Wakil Rektor IV Universitas Muria Kudus