Musibah Datang Bukan Berarti Allah Mengazab Hamba-Nya, Ada Sarat Hikmah di Baliknya
YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Hidup merupakan sebuah matarantai yang tak terpisahkan dari ujian Allah SwT. Kadangkala diberikan kesenangan, pun bisa jadi diberikan kesulitan. Demikian Yusup Siradz mengemukakan.
“Kadang-kadang diberikan suka maupun diberikan duka,” menggarisbawahi lebih lanjut.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DIY itu menyebut, derivasi lebih jauh lagi dari konteks itu, ujian itu dapat berupa nikmat kebaikan, pun boleh jadi bisa berupa musibah.
“Tentunya dengan silih bergantinya kehidupan ini adalah bagian daripada ketetapan Allah,” ujarnya, Jumat (23/10) saat Khutbah Jumat di Masjid Noor Pakuningratan Yogyakarta.
Musibah berupa bencana alam yang terjadi di muka bumi secara sekonyong-konyong disebutnya telah menjadi bagian daripada ujian Allah. Itu sebagai bentuk pembuktian sejauh mana hamba-Nya bertaqqrub kepada-Nya.
“Bisa beristighfar, bisa berdoa untuk bermunajat kepada Allah,” ucapnya. Seketika mengemuka pertanyaan di permukaan: Kenapa musibah itu datang silih berganti? Kata Yusup, pertama, untuk memuji keimanan umat manusia serta kualitas dirinya.
“Allah ingin melihat sejauh mana manusia memiliki ketabahan dan kesabaran serta tetap istiqamahnya untuk berada dan menghadap Allah,” urainya.
Singkap Yusup, musibah yang turun dari langit tidak dijustifikasikan sebagai azab. “Belum tentu itu adalah kebencian daripada Allah,” tekannya. Namun, tidak sedikit manusia gundah gulana menyoal soal itu.
“Padahal Allah di situ memberikan musibah ingin melihat. Dia sabar, dia tabah, dia terus istiqamah kepada Allah atau tidak,” tekannya.
Kedua, sebagai medium penggugur benih dosa. Rasul bersabda "Tidaklah seorang Muslim terkena keletihan, penyakit, kesedihan, kesusahan, atau rasa sakit, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapuskan sebagian dosanya dengan itu.” (HR Bukhari).
“Apa pun yang terjadi ketika manusia tetap tabah, tetap sabar, tetap berada di jalan Allah maka itu adalah sebagai jalan untuk menghapus daripada kesalahan dan dosa-dosa yang pernah dilakukannya,” jelasnya.
Ketiga, sebagai peringatan agar manusia untuk segera kembali kepada Allah. Kata Yusup, peringatan itu sebagai bentuk sentilan Tuhan kepada kita di mana pun dan kapan pun.
“Adalah bagian dari bagaimana manusia untuk mengevaluasi diri,” ujarnya, yang juga Guru Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Terlebih soal lingkungan yang begitu hebatnya didestruksi demikian rupanya. Kerusakan alam terjadi di mana-mana, baik di darat maupun di lautan (Qs ar-Rum ayat 41).
“Sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan Allah dengan jalan yang sebenar-benarnya,” bebernya.
Keempat, agar ditingkatkan derajatnya oleh Allah. “Tentunya derajat yang tinggi adalah hasil usaha diri kita,” tuturnya. Tetapi, sambungnya, ada juga hasil usaha bagaimana merayakan dahsyatnya kekuatan ibadah kepada Allah.
“Di situlah akan nampak bagaimana kehidupan kita ditinggikan derajatnya oleh Allah ketika dengan dengan sesama umat manusia, terutama dengan Allah, manusia terus berdekatkan diri at-taqarrub ilallah. Mendekatkan diri kepada Allah,” tekannya.
Yusup pun mengajak umat Islam untuk menghadapi setiap musibah dengan sebaik-baiknya. Sikap manusia dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan yang menimpanya menjadi bagian penting dari ujian kehidupan.
“Ini bagian daripada bagaimana sikap manusia menyelesaikan dari setiap musibah-musibah yang diterima terhadap dirinya,” tandasnya. (Cris)