Jangan Sampai Punah, Situs Sejarah Muhammadiyah Harus Direvitalisasi Jadi Destinasi Wisata
BANTUL, Suara Muhammadiyah – Yogyakarta menjadi pusat episentrum kelahiran Muhammadiyah tahun 1912. Tentunya, kota dengan julukan pendidikan ini, menyimpan banyak muatan sejarah yang laik diketahui dan dipelajari bersama.
“Tempat Muhammadiyah itu di Yogyakarta. Maka jadikanlah Yogyakarta sebagai situs destinasi wisata sejarah Muhammadiyah,” pinta Muhadjir Effendy, Ahad (25/10) saat Silaturahmi Nasional (Silatnas) LPEK PP Muhammadiyah di UMY Student Dormitory, Tamantirto, Kasihan, Bantul.
Situs sejarah Muhammadiyah menjadi sangat penting keberadaannya. Menurut Muhadjir, hal itu sebagai upaya untuk merawat ingatan kolektif ihwal perjalanan Muhammadiyah kepada kawula muda.
“Ini harus diselamatkan betul mumpung belum punah. Jadi harus kita hidupkan kembali, kita panggungkan kembali, dan itu menjadi pariwisata sejarah,” tekan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Bagi Muhadjir, sangat terbuka peluang untuk melakukan langkah itu. Upayanya yakni memasukkan ke dalam kerangka kurikulum pembelajaran Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).
“Saya minta ada koordinasi dengan Majelis Pendidikan Tinggi (Diktilitbang) dan Majelis Dikdasmen agar diperjuangkan destinasi berkunjung ke situs-situs Muhammadiyah yang ada di Yogyakarta,” bebernya.
Lebih khususnya lagi, Muhadjir mengusulkan agar kunjungan ke situs sejarah Muhammadiyah dapat menjadi pembelajaran wajib bagi murid maupun mahasiswa.
“Sehingga tidak boleh ada siswa Muhammadiyah mulai dari TK sampai SD, SMP, SMA, perguruan tinggi belum pernah berkunjung ke situs-situs yang ada di Yogyakarta ini,” ujarnya.
Kunjungan ke situs sejarah Muhammadiyah itu, menurut Muhadjir, menjadi sarana pembelajaran langsung bagi generasi muda. Mereka tidak hanya mengenal sejarah Muhammadiyah melalui buku, tetapi juga dapat
“Dan itu Insyaallah lebih mantap. Paling tidak melengkapi dengan mata kuliah atau mata pelajaran AIK. Sehingga pelajaran AIK tidak verbalistik, hanya suruh menghafalkan yang anak-anak tidak bisa menghayati,” bebernya.
Muhadjir yakin dan optimis jika hal demikian itu dikelola dan tersistematisasi dengan baik berikut didukung dengan pemandu yang berkompeten, maka AIK benar-benar merasuk ke dalam pikiran dan jiwa kader-kader Muhammadiyah.
“Sehingga ketika lulusan dari sekolah-sekolah Muhammadiyah itu memang kemudian bangga menjadi lulusan Muhammadiyah. Dan nanti akan menyisihkan waktunya, tenaganya, mungkin juga kepemilikannya untuk kepentingan perjuangan di Muhammadiyah,” tandasnya. (Cris)