Generasi Z yang Visioner
Generasi Z yang Visioner
Oleh: Mohammad Fakhrudin
Di dalam Suara Muhammadiyah online, 27 Oktober 2025 telah diuraikan pelajaran penting dari kisah Ashabul Kahfi bagi generasi Z. Tokoh yang dijadikan teladan bagi pemuda di dalam artikel itu adalah Utsamah bin Haritsah dan para pemuda sebagaimana dijelaskan di dalam surat al-Kahfi (18): 9, 10, dan 13.
Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an surat al-Kahfi (18): 9-10,
اَمْ حَسِبْتَ اَنَّ اَصْحٰبَ الْـكَهْفِ وَا لرَّقِيْمِ ۙ كَا نُوْا مِنْ اٰيٰتِنَا عَجَبًا
“Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua, dan (yang mempunyai) Ar-Raqim itu, termasuk tanda-tanda (kebesaran) Kami yang menakjubkan?”
Mereka mengasingkan diri karena menyadari tidak mempunyai kemampuan melawan rezim penguasa. Bekal yang dibawanya adalah keimanan penuh kepada Allah Subahanahu wa Ta"ala. Mereka mohon rahmat dan petunjuk kepada-Nya sebagaimana dijelaskan di dalam ayat 10
اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْـكَهْفِ فَقَا لُوْا رَبَّنَاۤ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَـنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
"(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, "Ya Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami."
Sekali lagi, mereka adalah para pemuda beriman. Mereka pun dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’a dari bermacam-macam bahaya dan diberi petunjuk sebagaimana dijelaskan di dalam ayat 13,
نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِٱلْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا۟ بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَٰهُمْ هُدًى
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya, mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”
Semangat Sumpah Pemuda
Sejarah telah membuktikan bahwa peran pemuda dan mahasiswa sangat penting sejak perjuangan merebut kemerdekaan hingga sekarang, bahkan hingga masa-masa yang akan datang. Tahun 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1978, 1998 merupakan tahun-tahun penting bagi pergerakan pemuda dan mahasiswa Indonesia.
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai daerah melepas dengan ikhlas kepentingan pribadi, golongan, dan daerah untuk bersatu dalam Indonesia, yakni dengan dikrarkannya Sumpah Pemuda:
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Fenomena Kekinian
Semangat Sumpah Pemuda bagi bagian besar bangsa Indonesia pada dasarnya masih tetap ada. Lebih-lebih lagi, dalam hubungannya dengan menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia. Hal ini termotivasi karena sejak 20 November 2023 di Markas Besar UNESCO di Paris, Prancis bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Unesco (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa).
Di sisi lain memang harus kita akui bahwa akhir-akhir ini gerakan ingin lepas dari NKRI sering kita saksikan melalui media sosial terjadi di beberapa daerah. Gerakan itu tentu harus disikapi dengan bijak. Langkah awal yang perlu ditempuh oleh para pengemban amanah di pemerintahan adalah introspeksi untuk mengetahui akar masalah, bukan arogansi. Berbagai kritik dan saran dari pengamat yang berasal dari berbagai latar belakang disiplin ilmu dan dari masyarakat awam perlu didengarkan dengan hati ikhlas dan pikiran terbuka.
Pujian dari orang-orang terdekat pada.saat tertentu perlu “diabaikan”. Boleh jadi, pujian justru menjerumuskan.
Jangan sombong dan membanggakan diri karena dipuji. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak suka kepada orang yang sombong dan membanggakan diri. Hal ini dijelaskan pada ujung ayat 36 surat an-Nisa (4).
وَا عْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـئًـا وَّبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَ الْمَسٰكِيْنِ وَا لْجَـارِ ذِى الْقُرْبٰى وَا لْجَـارِ الْجُـنُبِ وَا لصَّا حِبِ بِا لْجَـنْبِۢ وَا بْنِ السَّبِيْلِ ۙ وَمَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَا نَ مُخْتَا لًا فَخُوْرًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”
Tanggung Jawab Generasi Senior
Generasi senior mempunyai tanggung jawab terhadap terkondisikannya generasi Z yang visioner. Bagi muslim, generasi Z yang visioner adalah generasi yang senantiasa berdoa dan berjuang untuk memperoleh rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dengan rahmat-Nya itu hidup kekal di surga. Mereka beriman bahwa kebahagiaan akhirat lebih utama.
Jika kita mencermati fenomena yang terjadi pada dua dasawarsa terakhir ini, sepertinya generasi yang visioner demikian sangat langka. Bahkan, cukup banyak di antara generasi Z yang visi hidupnya tergerus oleh ambisi keduniaan. Visinya berbeda dari semangat menjelang reformasi.
Dengan mudah dapat kita saksikan aktivis reformasi yang dulu lantang berteriak memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), setelah memperoleh bagian “kue kekuasaan” berubah pikiran dan sikap. Di antara mereka ada yang membiarkannya, bahkan, justru ada yang terlibat KKN. Di antara mereka ada yang makin jauh dari keteladan Utsamah bin Haritsah dan pemuda Ashabul Kahfi.
Untuk mempersiapkan generasi yang kuat visi keakhiratannya sebagaimana dipaparkan, generasi senior wajib menjadi teladan. Sangat mungkin generasi Z makin jauh dari visi keakhiratan sebagaimana telah dipaparkan terlahir karena kurangnya teladan dari generasi senior. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an surat at-Tahrim (66):6,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Sementara itu, di dalam surat an-Nisa (4):135, dijelaskan,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ ۚ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَا ۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا ۚ وَاِنْ تَلْوٗٓا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kerabatmu. Jika dia (yang diberatkan dalam kesaksian) kaya atau miskin, Allah lebih layak tahu (kemaslahatan) keduanya. Oleh karena itu, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang (dari kebenaran). Jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau berpaling (enggan menjadi saksi), sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.”
Sudahkah generasi senior mengamalkan ayat tersebut?
Pertanyaan itu harus kita jawab dengan jujur.