Sumpah yang Tidak Boleh Berhenti di Upacara

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

Sumpah yang Tidak Boleh Berhenti di Upacara

Oleh: Syahnanto Noerdin *)

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa ini mengulang ritual yang sama: upacara bendera, pembacaan teks Sumpah Pemuda, unggahan poster bertema merah putih di media sosial. Tahun ini, Hari Sumpah Pemuda ke-98 mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Tiga kata sifat yang indah. Namun pertanyaan yang lebih penting dari tema itu sendiri adalah apakah kita masih memahami makna sumpah yang sedang kita peringati.

Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Pemuda Kaum Betawi, dan berbagai organisasi lainnya berkumpul di Batavia. Mereka datang dengan identitas yang berbeda-beda: bahasa ibu, adat, agama, dan latar belakang sosial. Di tengah perbedaan itu mereka mengikrarkan tiga hal: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa persatuan, Indonesia.

Kata “sumpah” di sini perlu kita timbang dengan serius. Sumpah berbeda dari slogan. Slogan boleh diucapkan lalu dilupakan, sementara sumpah mengikat pengucapnya pada konsekuensi. Para pemuda 1928 tahu bahwa mengikrarkan Indonesia di bawah pengawasan pemerintah kolonial bukan perkara ringan. Banyak di antara mereka kemudian ditangkap, diasingkan, dan dipenjara. Sumpah itu mereka bayar dengan masa depan pribadi.

Karena itu, memperingati Sumpah Pemuda semestinya bukan sekadar mengenang, melainkan menagih diri sendiri: sumpah apa yang sedang kita pegang hari ini, dan apa harga yang bersedia kita bayar?

Patriotik Mempersatukan

Tema pertama, patriotik, kerap disalahpahami sebagai simbolisme belaka: seberapa lantang menyanyikan lagu kebangsaan, seberapa besar bendera yang dikibarkan. Padahal patriotisme pemuda hari ini diuji di medan yang berbeda. Musuh kita bukan lagi serdadu kolonial, melainkan kemiskinan yang diwariskan, kesenjangan akses pendidikan, korupsi yang menggerogoti kepercayaan publik, serta disinformasi yang memecah belah warga di ruang digital.

Patriotisme generasi sekarang berarti memilih mengabdikan keahlian bagi negeri. Insinyur muda yang membangun solusi air bersih untuk desa, pengembang yang menciptakan aplikasi yang memudahkan petani menjual hasil panennya, guru muda yang bersedia mengajar di daerah terpencil, atau anak muda yang menolak ikut menyebar hoaks meski itu menguntungkan secara politik. Semua itu bentuk cinta tanah air yang nyata, tanpa perlu seremoni.

Patriotisme juga berarti berani jujur. Mencintai Indonesia tidak sama dengan menutup mata terhadap kekurangannya. Pemuda 1928 mencintai bangsa yang belum ada, justru karena mereka berani mengakui bahwa keadaan saat itu tidak layak diterima begitu saja.

Tema kedua, gigih, terasa relevan di tengah budaya serba cepat. Generasi muda hari ini tumbuh bersama algoritma yang menawarkan kepuasan instan: viral dalam semalam, kaya dalam sebulan, terkenal tanpa proses. Tidak sedikit yang akhirnya tergoda jalan pintas, mulai dari judi daring, pinjaman online ilegal, hingga investasi bodong yang menjanjikan untung berlipat.

Kegigihan adalah antitesis dari semua itu. Perjuangan para pendiri bangsa tidak selesai dalam satu kongres. Dari Kongres Pemuda I tahun 1926 hingga Kongres Pemuda II tahun 1928, lalu proklamasi 1945, hingga perang mempertahankan kemerdekaan, rentang perjuangan itu panjang dan melelahkan. Tidak ada jalan pintas menuju Indonesia merdeka.

Hal yang sama berlaku bagi cita-cita Indonesia maju. Ia dibangun oleh ribuan hal yang tidak glamor: riset yang bertahun-tahun, usaha kecil yang jatuh bangun, organisasi komunitas yang bertahan meski tanpa sorotan. Pemuda yang gigih memahami bahwa dampak besar lahir dari konsistensi, bukan dari sensasi.

Tema ketiga, berempati, barangkali yang paling mendesak. Kita hidup di zaman ketika teknologi mempertemukan jutaan orang, tetapi sering kali justru mempertebal sekat. Ruang media sosial mudah berubah menjadi arena saling hujat. Perbedaan pilihan politik, keyakinan, atau sekadar selera bisa memicu perundungan massal.

Sumpah Pemuda lahir dari kemampuan para pemuda untuk saling mendengar. Kongres 1928 mempertemukan pandangan yang tidak seragam, termasuk perdebatan tentang bahasa dan bentuk persatuan. Mereka bisa sampai pada kesepakatan karena bersedia menempatkan diri di posisi pihak lain. Tanpa empati, “berbangsa satu” hanya akan menjadi kalimat indah di atas kertas.

Empati hari ini punya wajah konkret. Ia hadir ketika pemuda turun tangan membantu korban bencana, mendampingi teman yang bergulat dengan kesehatan mental, memberi ruang bagi penyandang disabilitas, atau menahan jempol sebelum menghakimi orang yang berbeda. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kuat dan cerdas, tetapi juga bangsa yang warganya saling peduli.

Dari Sumpah Menjadi Kerja

Tiga nilai itu, patriotik, gigih, dan berempati, saling melengkapi. Patriotisme tanpa empati melahirkan nasionalisme sempit yang curiga pada sesama. Empati tanpa kegigihan berhenti sebagai simpati yang tak berbuah tindakan. Kegigihan tanpa patriotisme bisa tersesat menjadi ambisi pribadi semata. Hanya ketika ketiganya berjalan bersama, kita memperoleh pemuda yang sungguh bekerja untuk Indonesia.

Menjelang satu abad Sumpah Pemuda pada 2028, kita punya waktu dua tahun untuk bertanya jujur: apakah generasi ini sedang menunaikan sumpahnya? Indonesia diproyeksikan menikmati bonus demografi, dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar. Namun bonus itu bukan jaminan. Ia bisa menjadi lompatan sejarah, atau justru beban jika tidak diiringi pendidikan bermutu, lapangan kerja layak, dan ruang partisipasi yang terbuka bagi anak muda.

Tanggung jawab ini tidak hanya di pundak pemuda. Negara, dunia usaha, dan masyarakat perlu menyediakan ekosistem yang memungkinkan sumpah itu hidup: akses pendidikan yang adil, kesempatan berkarya, dan kepercayaan bahwa suara anak muda didengar. Sumpah 1928 adalah sumpah antargenerasi; setiap generasi punya bagian yang harus dikerjakan.

Hari Sumpah Pemuda bukan milik masa lalu. Ia adalah cermin yang setiap tahun mengajukan pertanyaan yang sama kepada kita: sudah sejauh mana kita setia pada ikrar itu? Para pemuda 1928 telah menunaikan bagiannya dengan mempersatukan yang terserak. Kini giliran kita menunaikan bagian kita, dengan cinta pada negeri yang diwujudkan dalam karya, ketekunan yang tidak mudah padam, dan kepedulian yang melampaui batas-batas kelompok.

Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-98. Mari jadikan 28 Oktober bukan sekadar tanggal untuk diperingati, tetapi titik untuk memulai kembali, karena sumpah yang hanya diucapkan akan lekang, sedangkan sumpah yang dikerjakan akan menjadi sejarah. (***)

*Syahnanto Noerdin adalah Ketua Bidang Kerja Sama dan Hubungan Antarlembaga Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pusat dan alumnus Magister Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).