Dahlan Rais: Ekonomi Penting, Tapi Bukan Tujuan Gerakan Dakwah

Ketua PP Muhammadiyah Dahlan Rais
Ketua PP Muhammadiyah Dahlan Rais

PONOROGO, Suara Muhammadiyah – Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan Workshop Amal Usaha Ekonomi dan Sociopreneurship di SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo (Muhipo), pada 30 Oktober hingga 1 November 2026.

Dalam pengarahan pembukaan, Dahlan Rais menegaskan bahwa pengembangan ekonomi merupakan salah satu aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam perjalanan Muhammadiyah. Setelah cukup lama mengembangkan bidang pendidikan dan kesehatan, kini Muhammadiyah perlu semakin memperkuat perhatian terhadap sektor ekonomi.

Menurutnya, sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah telah mulai mengembangkan berbagai unit usaha ekonomi dengan hasil yang cukup baik. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), misalnya, menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi Muhammadiyah berupaya mengembangkan kegiatan ekonomi sebagai bagian dari penguatan institusi.

Namun, Dahlan mengingatkan agar Muhammadiyah tidak silau dengan keberhasilan ekonomi hingga melupakan tujuan utama gerakannya.

"Ekonomi itu penting, tetapi bukan tujuan utama Muhammadiyah. Muhammadiyah adalah gerakan dakwah dan amar makruf nahi mungkar. Karena itu, kegiatan ekonomi harus tetap berada pada jalur dan orientasi gerakan Muhammadiyah," tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan ekonomi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kebutuhan sandang, pangan, dan papan menjadi kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi. Bahkan, dalam ungkapan sederhana masyarakat, motivasi hidup sering kali dirumuskan dengan istilah golek pangan.

Dahlan juga mengingatkan bahwa keterbatasan ekonomi dapat menjadi persoalan serius apabila tidak diantisipasi dengan baik. Karena itu, penguatan ekonomi perlu dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar membangun kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera, sekaligus memperkuat kemampuan organisasi dalam menjalankan dakwah.

Meski demikian, pengembangan amal usaha ekonomi Muhammadiyah harus disertai tata kelola yang baik. Salah satu hal yang mendapat perhatian adalah pengaturan kepemilikan saham dalam badan usaha milik Muhammadiyah. Menurutnya, perlu ada ketentuan yang jelas mengenai kepemilikan, mekanisme pengelolaan, serta periodisasi agar usaha yang dibangun tetap menjadi bagian dari kekuatan organisasi dan tidak bergantung pada kepemilikan perseorangan secara permanen.

Dalam kesempatan tersebut, Dahlan juga mengajak peserta untuk membangun pola pikir yang lebih kreatif dan produktif dalam mengembangkan usaha. Ia mengingatkan bahwa sikap cepat merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki terkadang justru dapat membatasi kreativitas dan menghambat perkembangan usaha.

Ia memberikan gambaran tentang seseorang yang telah merasa cukup dengan usaha kecil yang dimilikinya, misalnya berjualan menggunakan gerobak, tanpa memiliki rencana pengembangan lebih jauh. Ketika usaha tersebut berhenti karena pemiliknya meninggal dunia, tidak ada keberlanjutan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya selain cerita tentang usaha yang pernah dijalankan.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa membangun usaha tidak cukup hanya dengan memulai dan menjalankannya, tetapi juga harus memikirkan pertumbuhan, sistem pengelolaan, keberlanjutan, serta manfaat yang dapat diwariskan.

Dahlan mendukung upaya pengembangan unit-unit usaha di lingkungan Cabang, Ranting, dan Masjid (CRM) Muhammadiyah. Namun, ia menekankan bahwa proses perintisannya harus dilakukan secara sungguh-sungguh, tidak tergesa-gesa, serta didasarkan pada perencanaan dan perhitungan yang matang.

Menurutnya, ekspansi usaha yang terlalu cepat tanpa pengendalian yang memadai justru dapat menjadi bumerang bagi organisasi. Pertumbuhan harus diimbangi dengan kemampuan mengelola, mengawasi, dan menjaga keberlangsungan usaha.

"Banyak kegiatan boleh dilakukan, tetapi semuanya harus terukur dan terencana dengan baik. Kita harus bersungguh-sungguh dalam merintis usaha, sekaligus mampu mengendalikan perkembangannya," menjadi salah satu pesan penting dalam arahannya.

Workshop Amal Usaha Ekonomi dan Sociopreneurship LPCRPM ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran sekaligus pertukaran pengalaman bagi para peserta dalam merancang dan mengembangkan usaha berbasis potensi Cabang, Ranting, dan Masjid Muhammadiyah.

Pengembangan ekonomi di lingkungan Muhammadiyah tidak semata-mata diarahkan untuk memperoleh keuntungan finansial. Lebih dari itu, kekuatan ekonomi diharapkan menjadi penopang keberlangsungan dakwah, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta penguatan pelayanan organisasi.

Dahlan mengajak seluruh peserta untuk memiliki keseimbangan dalam memandang capaian dan tantangan. Di satu sisi, berbagai keberhasilan yang telah diraih patut disyukuri. Namun, di sisi lain, Muhammadiyah tidak boleh berhenti bergerak, berinovasi, dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Semangat tersebut menjadi landasan penting dalam membangun amal usaha ekonomi yang tidak hanya tumbuh secara bisnis, tetapi juga memiliki nilai sosial dan kebermanfaatan yang luas.

Melalui workshop ini, LPCRPM berharap lahir gagasan, model usaha, serta langkah-langkah konkret untuk mengembangkan kemandirian ekonomi Cabang, Ranting, dan Masjid. Dengan perencanaan yang matang, tata kelola profesional, serta orientasi dakwah yang kuat, pengembangan ekonomi diharapkan semakin memperkokoh gerakan Muhammadiyah menuju Islam yang berkemajuan dan berkelanjutan. (gsh).